Mengenal Lebih Dalam Tentang Tari Daerah Indonesia

Apakah Anda salah satu orang yang suka menari? Jika memang iya, kira-kira apa sih yang Anda ketahui tentang sebuah tarian? Pastinya anda hanya mengetahui kalau tarian hanyalah seseorang yang sedang melenggak lenggok saja. Namun dibalik itu semua ada yang masih harus anda ketahui, terlebih lagi untuk anda yang sedang belajar menari.

Pengertian Tari

Tari adalah gerakan tubuh sesuai dengan irama yang mengiringinya. Tari juga berarti ungkapan jiwa manusia melalui gerak ritmis, sehingga dapat menimbulkan daya pesona. Yang dimaksud ungkapan jiwa adalah meliputi cetusan rasa dan emosional yang disertai kehendak.

Tarian Yang Berasal Dari Indonesia Beserta Daerah Asalnya

Seperti kita semua tahu, Indonesia adalah surga budaya. Banyak hal unik yang bisa ditemukan di sini, salah satunya adalah tariannya. Indonesia memiliki tarian pabean tersendiri, berdasarkan agama mereka. Setiap daerah memiliki tarian tersendiri yang berbeda dengan daerah lainnya. Beberapa dari mereka juga dianggap langka untuk dilihat.

1. Tari Saman

2

Tarian unik ini berasal dari Aceh. Tari Saman juga dikenal dengan paduan suara dan juga gerakan cepat dari tarian itu sendiri. Karena tari Saman itulah yang membuat Indonesia lebih bangga memilikinya. Sejak 24 November 2011, tarian saman telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Unik Indonesia oleh UNESCO pada sesi keenam Komite Antar Pemerintah yang diadakan di Bali.

Tari Saman selama Kesultanan Aceh hanya ditunjukkan pada kesempatan mawlida Nabi Muhammad di surau-surau atau masjid di daerah Gayo, namun dalam perkembangannya dia kemudian dimainkan dalam acara-acara publik seperti pesta ulang tahun, pernikahan, khitanan, dan acara lainnya sekarang.

2. Tari Legong

1

Di masa kerajaan Bali, tarian ini hanya ditampilkan di lingkungan istana. Kata Legong sendiri berasal dari asal kata “Leg” yang memiliki arti fleksibel dan “gong” yang bisa diartikan sebagai gamelan. Oleh karena itu, tarian ini memiliki gerakan anggun yang disertai dengan gamelan tradisional Bali yang disebut Semar Pegulingan. Selain itu, para penari yang bermain Legong menggunakan kipas angin, kecuali karakter Condong.

Di Bali, ada beberapa jenis Tari Legong yang berkembang dari waktu ke waktu, yaitu Legong Keraton atau Legong Lasem, Legong Legong Bawa, Legong Jobog, Legong Smaradahana, Legong Sudarsana dan Legong Kuntul.

3. Tari Yapong

22

Tarian Yapong adalah tarian orang Betawi di Jakarta. Tarian ini merupakan tarian kontemporer yang melambangkan kegembiraan dan komunitas sosial. Tarian ini sering dilakukan di berbagai acara atau perayaan di kota jakarta. Gerakan Tari Yapong adalah gerakan yang sederhana tapi sangat dinamis. Mengandalkan gerakan kaki, tangan dan pinggul. Penari menari dengan ekspresi gembira dengan bermain tangan dan kaki bergantian, dan pinggul mengikuti gerakan.

Asal mula Tari Yapong dimulai pada tahun 1977 saat perayaan ulang tahun ke-450 di Jakarta. Pada saat itu acara tersebut mengusung tema perjuangan Pangeran Jayakarta dan dipercayakan kepada seorang seniman besar bernama Bagong Kussudiarjo selaku penyelenggara acara tersebut.

Untuk mempersiapkan acara tersebut kita perlu melakukan studi tentang kehidupan masyarakat Betawi. Dalam penelitian tersebut, ia melakukan pengamatan langsung ke masyarakat Betawi dan melakukan penelitian melalui perpustakaan, slide dan juga film tentang masyarakat Betawi. Hingga akhirnya menjadi single yang dipentaskan di sesi senyan Hall, Jakarta pada tanggal 20 Juni 1977.

4. Tari Jaipong

5

Tari Jaipong adalah salah satu kesenian tradisional Jawa Barat yang sangat populer di Indonesia. Tarian Jaipong adalah penggabungan beberapa kesenian tradisional seperti pencak silat, wayang golek, tap tilu dan yang lainnya. Tarian ini sering tampil di berbagai acara seperti menyambut tamu dan festival budaya.

Secara historis, Tari Jaipong adalah tarian yang diciptakan oleh seorang seniman bernama H. Suanda dari Karawang. Tarian ini dimulai pada tahun 1976 melalui media tape dengan nama “Suanda Group”. Saat itu, mereka tetap menggunakan instrumen sederhana seperti iringan seperti drum, tap, kecrek, goong, rebab dan sinden. Melalui media rekaman rekaman itu mendapat respon yang baik dari masyarakat.

5. Tari Maengket

q

Tari Maengket adalah salah satu tarian tradisional orang Minahasa yang tinggal di Sulawesi Utara. Tarian ini biasanya tampil secara massal (penari dengan jumlah banyak), baik penari pria maupun penari wanita. Tarian Maengket adalah salah satu tarian tradisional paling terkenal di Sulawesi Utara dan masih dipertahankan sampai sekarang. Tarian ini sering ditampilkan di berbagai acara seperti festival panen, upacara adat, sambutan, pentas seni dan lain-lain.

Tari Maengket sudah ada sejak orang Minahasa mengenal pertanian, terutama menanam padi di sawah. Di zaman kuno, Tari Maengket ditunjukkan untuk memeriahkan upacara panen sebagai ungkapan rasa syukur dan sukacita kepada Tuhan atas hasil panen yang mereka terima.

6. Tari Sekapur Sirih

4

Tarian Sekapur Sirih adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Jambi. Tarian ini merupakan jenis tarian yang biasanya ditarikan oleh para penari wanita. Dengan berpakaian kostum dan didampingi oleh alat musik, mereka menari dengan gerakan lembut dan melakukan cerano sebagai tanda persembahan. Tarian Sekapur Betih adalah salah satu tarian tradisional paling terkenal di daerah Jambi dan biasanya diperlihatkan untuk menyambut para tamu terhormat yang berkunjung kesana.

Menurut sejarahnya, tarian Sekapur Sirih pertama kali diciptakan oleh salah satu seniman paling terkenal di Jambi, bernama Firdaus Chatap. Kemudian tarian ini diperkenalkan ke masyarakat luas pada tahun 1962. Karena pada saat itu masih merupakan gerakan dasar, beberapa seniman mulai mengembangkan tarian ini. Dengan berkolaborasi dengan iringan musik dan lagu, membuatnya semakin menarik dan semakin populer di kalangan masyarakat.

7. Tari Suanggi

55

Tarian Suanggi adalah tarian perang yang melambangkan kepahlawanan orang Papua. Biasanya dilakukan saat kepala suku memerintahkan para pejuangnya untuk bertarung, dan tarian itu sebenarnya menjadi daya pendorong para pejuang untuk menjaga semangat mereka tetap hidup dan mantap. Tapi sekarang, dengan perkembangannya menurut saat ini, peraturan pemerintah melarang perang antar suku, membuat tarian itu hanyalah tarian selamat datang.

Tarian Suanggi hanya ditarikan oleh 16 pria dan 2 wanita, mereka menari dengan antusias dengan iringan alat musik yang disebut tifa dan kemudian menyanyikan lagu-lagu power-generation. Penari pakai adalah kostum khusus dari papua yang berpakaian dengan manik-manik yang menghiasi dada dan rok yang terbuat dari akar dan daun yang disisipkan di sekitar tubuh mereka, sehingga membuktikan para penari cinta alam semesta.

8. Tari Tor-Tor

6

Tarian Tor Tor adalah salah satu jenis tarian yang berasal dari suku Batak di Pulau Sumatera. Sejak sekitar abad ke-13, Tor Tor Dance telah menjadi budaya suku Batak. Perkiraan tersebut diajukan oleh mantan anggota dewan Sumatera Utara 1973-2010 dan ahli Tor Tor Dance. Dahulu, tradisi Tor Tor hanya ada dalam kehidupan masyarakat suku Batak di wilayah Samosir, wilayah Toba dan sebagian wilayah Humbang. Namun, setelah masuk Kristen di wilayah Silindung, budaya ini dikenal dengan budaya menyanyi dan menari modern.

Tarian Tor Tor juga sangat terkenal di pelosok dunia, yang jelas banyak turis asing dan lokal yang ingin belajar menari ini. Tarian Tor Tor saat ini berubah menjadi seni budaya, tak lagi tarian yang erat kaitannya dengan dunia roh. Karena seiring perkembangan zaman, Tor Tor adalah perangkat budaya dalam setiap kehidupan adat suku Batak.

9. Tari Bedhaya

7

Tari Bedhaya Ketawang adalah tarian besar yang dilakukan hanya pada saat penobatan dan takhta raja di Kasunanan Surakarta. Tarian ini merupakan tarian sakral bagi masyarakat dan Kasunanan Surakarta. Nama Bedhaya Ketawang Tari diambil dari kata bedhaya yang berarti penari perempuan di istana, dan ketawang yang berarti surga, yang identik dengan sesuatu yang tinggi, mulia dan mulia.

Menurut sejarahnya, tarian ini dimulai saat Sultan Agung memerintah kerajaan Mataram pada tahun 1613 – 1645. Pada suatu waktu Sultan Agung melakukan ritual kemudian dia mendengar suara dari langit, Sultan Agung kagum dengan hal itu. Kemudian dia memanggil penjaga dan mengatakan apa yang telah terjadi. Dari kejadian itulah Sultan Agung menciptakan sebuah tarian yang disebut bedhaya ketawang.

10. Tari Piring (Plate)

8

Selain melimpahnya atraksi alam, Sumatera Barat juga memiliki banyak gaya seni yang akan membuat Anda takjub. Salah satunya adalah seni tari daerah yang diberi tarian Plate. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Sumatera Barat membuat tarian ini menjadi salah satu aset untuk menarik perhatian wisatawan.

Tarian ini berasal dari Sumatera Barat, tepatnya di Solok. Mula-mula, tarian lempeng yang dilakukan oleh perempuan dan laki-laki untuk membawanya kepada para dewa sebagai bentuk syukur atas hasil panen yang memberi hasil yang sangat memuaskan. Mereka menari sangat meriah sambil memegang piring di telapak tangan mereka.

11. Tari Rapai Geleng

9

Tarian Rapa’i Geleng adalah wujud media dakwah yang diwakili dalam bentuk seni pertunjukan. Tarian ini lahir dan berkembang di Manggeng Aceh Barat Daya, namun nama penciptanya tidak diketahui. Tarian ini telah muncul sejak lama, namun hanya diketahui oleh masyarakat Aceh secara luas setelah pertunjukan di Pekan Budaya Aceh.

Tarian ini, dalam media persalinan menggunakan bahasa Aceh yang dinyanyikan oleh Cahi (vokalis) diikuti oleh para penari. Gerakannya hampir sama dengan gerakan Saman, tapi alat dan bahasa yang digunakan berbeda. Tarian mulai berkembang dalam 20 tahun terakhir sejak tahun 1980an. Tarian ini dilakukan di Pekan Budaya Aceh sampai tahun 2004. Kini banyak studio di Aceh mulai belajar menari ini.

12. Tari Serimpi

222

Tarian Serimpi merupakan salah satu tarian klasik dari Yogyakarta yang ditarikan oleh beberapa penari wanita cantik dan elegan. Tarian ini menggambarkan kesopanan dan kelembutan, yang ditunjukkan oleh gerakan lamban dan lembut oleh para penari. Tarian Serimpi juga awalnya merupakan tarian yang sakral dan hanya ditampilkan di istana Yogyakarta.

Tarian Serimpi ini sudah ada sejak zaman kerajaan Mataram di masa pemerintahan Sultan Agung. Pada saat itu, tarian ini merupakan salah satu tarian sakral, yang hanya dilakukan di lingkungan istana untuk upacara dan ulang tahun Sultan. Karena tarian sakralnya, para penari telah dipilih oleh keluarga kerajaan.

13. Tari Cokek

44

Tarian Cokek adalah salah satu tarian klasik orang Betawi di Jakarta. Tarian ini merupakan tarian sosial orang Betawi untuk memeriahkan pesta tradisional mereka. Tarian Cokek merupakan perpaduan antara unsur tarian tradisional Tionghoa, sunda, Betawi dan juga pencak silat. Gerakan tarian Cokek ini terasa harmonis dan lentur, dengan gerakan tangan dan pinggul yang anggun bergoyang mengikuti ritme. Selain itu, para penari sesekali juga bermain selendang sehingga membuat penari terlihat anggun dan mempesona.

Dalam perkembangannya, Tari Cokek mulai jarang tampil di berbagai acara seperti dulu. Tapi tarian ini masih bisa ditemukan dalam acara besar seperti pesta ulang tahun ibu kota Jakarta dan festival budaya. Seiring dengan perkembangannya, Cokek Dance telah dimodifikasi agar terlihat menarik. Banyak kreasi ditambahkan terutama pada gerakan dan pakaian yang sedang digunakan, namun tidak meninggalkan pegangan aslinya.

14. Tari Reog

c

Reog adalah salah satu seni yang berasal dari bagian barat laut Jawa Timur dan Ponorogo. Ponorogo disebut sebagai kota asal nyata seni Reog karena di gerbang kota Ponorogo ini dihiasi dua tokoh seni ini. Kedua tokoh itu adalah Warok dan Gemblak. Kesenian ini masih sangat kuat dengan mistisisme dan psikoterapi yang kuat.

Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo sekarang menjadi cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun di tengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari burung merak dan singa, sedangkan dari Kerajaan Kelongo dan Kelantan Bujang Anom Ponorogo, dilindungi oleh warok (pria berpakaian hitam dalam tarian), dan warok ini memiliki sihir hitam yang mematikan.

Penari Yang Terkenal Di Indonesia

Begitu banyaknya tarian daerah yang ada di Indonesia, bukan tidak mungkin para penari yang menekuni profesinya tidak emnjadi terkenal. Bahkan sudah ada juga yang mendunia lho guys. Seperti list yang ada di bawah ini, beberapa nama penari tradisonal Indonsia yang bahakan ada yang suda mendunia.

1. Tjetje Sumatri

Tjetje yang lahir dengan nama Rd. Roesdi Somantri sebagai penari tayuban di pendopo kabupaten. Kemahiran ini dikuasai berkat ketekunannya yang mempelajari berbagai jenis tari dan bahkan pencak silat. Masa jayanya mencapai puncak, ketika ia memimpin perkumpulan Rinenggasari (1958- 1965). Sampai tahun 1963, ia menyumbang sekitar 44 karya tari, walaupun sumbersumber penataan tari ciptaannya banyak bersumber dari guru tari lainnya.

Penerima tanda penghargaan Piagam Wijaya Kusumah (1961) itu mengabdikan diri pada seni tari Sunda sampai akhir hayatnya. Ia meninggal tahun 1963, ketika masih mengajarkan tari Patih Ronggana sebagai salah satu ciptaannya. Sebagian karya yang dihasilkan Tjetje Sumantri adalah tari Koncaran, Anjasmara, Sulintang, Pamindo, tari Merak, tari Kukupu, tari Tenun, tari Dewi Serang, tari Kandagan, dan tari Topeng Koncaran.

2. Sujana Arja

Sujana Arja merupakan seorang penari, di samping itu yang merupakan pekerjaan pokok baginya . Ketika aia telah memasuki masa-masa remaja (pada tahun 1940an), ia sering ikut bersama grup kesenian pimpinan Ayahnya untuk “ngamen” (dalam istilah Cirebon, disebut bebarang). Ia sering ikut keliling kampung berhari-hari, bahkan berbulan-bulan untuk menari topeng dari rumah ke rumah. Pengalaman ngamen selama bertahun-tahun kini bagi SujanaArja merupakan pengalaman yang sangat berharga.

Sekarang, ia adalah pimpinan grup kesenian Panji Asmara yang masih ada hingga sekarang. Ia terampil menari, menabuh, mendalang, dan melatihkan semua bakat dan keahlian yang ia miliki. Sujana Arja merupakan sosok seniman topeng (maestro topeng) Cirebon yang serba terampil. Usahanya untuk memperkenalkan seni budaya Indonesia dimulai sejak ngamen di lorong-lorong kampung hingga pertunjukan panggung bergengsi internasional.

3. Bagong Kussudiardjo

 

Dalam dunia tari Indonesia, sempat muncul aliran Bagongisme’, yang merujuk pada karakter tarian-tarian khas Bagong. Sebagai pencipta tari dan koreografer, Bagong mampu melahirkan dan membawakan tari-tarian dengan gerak-gerak yang dinamis, energik dan hidup. Selain energik, Bagong juga mendasarkan estetika tarian ini pada keikhlasan untuk mengabdi pada kemanusiaan. Keikhlasan dan pengabdian itu mewarnai hampir semua karya Bagong, seperti tari Layang-layang (1954), tari Satria Tangguh, dan Kebangkitan dan Kelahiran Isa Almasih (1968), juga Bedaya Gendeng (1980-an). Pada 5 Maret 1958, ia mendirikan Pusat Pelatihan Tari Bagong Kusudiardjo.

Sejak itu banyak penari bermunculan. Setelah sekian lama berpraktek menari dan melakukan observasi, Bagong akhirnya memutuskan untuk mendirikan padepokan seni di bidang tari, ketoprak, karawitan, dan sinden pada tanggal 2 Oktober 1978. Selama hidupnya, Bagong menciptakan lebih dari 200 tari dalam bentuk tunggal atau massal. Romo Gong (sapaan akrab dari Bagong Kusudiarjo) telah mencipta lebih 200 tari dalam bentuk tunggal atau massal. Beberapa karya lainnya yang dihasilkan adalah tari Batik, Keris, Reog, dan Yapong.

4. Didik Nini Thowok

Didik Nini Thowok terlahir dengan nama Kwee Tjoen Lian. Namun, kemudian orangtuanya mengubah namanya menjadi Kwee Tjoen An. Ia lahir di Temanggung, Jawa Tengah, pada tanggal 13 November 1954. Didik dikenal sebagai penari, koreografer, komedian, pemain pantomim, penyanyi dan pengajar. Koreografi tari ciptaan Didik yang pertama dibuat pada pertengahan tahun 1971, diberi judul “Tari Persembahan”, yang merupakan gabungan gerak tari Bali dan Jawa.

Didik tampil kali pertama sebagai penari wanita, berkebaya, dan bersanggul saat acara kelulusan SMA tahun 1972 membawakan tari Persembahan yang ditarikan dengan luwes dan memukau. Setelah menyandang gelar SST (Sarjana Seni Tari), Didik ditawari almamaternya, ASTI Yogyakarta untuk mengabdi sebagai staff pengajar. Selain diangkat menjadi dosen di ASTI, ia juga diminta jadi pengajar Tata Rias di Akademi Kesejahteraan Keluarga (AKK) Yogya.

5. Sasminta Mardawa

Sasminta Mardawa atau akrab dipanggil Romo Sas, lahir di Yogyakarta, 9 April 1929. Ia digelari sebagai empu seni tari klasik gaya Yogyakarta. Dia menghadirkan nuansa tersendiri dalam dunia tari klasik Indonesia, khususnya dalam pengembangan tari klasik gaya Yogyakarta. Seniman ini punya andil menjadikan tari klasik Jawa digemari oleh masyarakat nasional dan dunia, pada era modern abad keduapuluhsatu ini. Dia seniman yang konsekuen pada jalur pengabdian sosial budaya secara utuh. Romo Sas adalah penari, guru, sekaligus koreografer telah melahirkan banyak seniman tari. Dia telah menciptakan lebih dari 100 gubahan tari-tarian klasik, gaya Yogyakarta, baik tari tunggal untuk putra dan putri, maupun tari berpasangan dan tari fragmen.

Di antara karya-karya tarinya yang sangat digemari adalah tari Golek, Beksan, Srimpi, dan Bedhaya. Meskipun tidak memiliki ijazah sarjana, dia telah dipercaya menjadi dosen tamu di sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat. Romo Sas juga pernah tampil di Malaysia, Filipina, Jepang, Amerika, dan Eropa. Penghargaan pun mengalir sebagai bukti pengakuan atas karya-karyanya. Di antaranya Hadiah Seni dari Gubernur DIY tahun 1983, hadiah seni dari Mendikbud RI tahun 1985, dan Certificate of Apprecition dari Lembaga Kebudayaan Amerika tahun 1987.

Dari beberapa deretan tari daerah yang dimiliki oleh Indonesia sudah dapat membuktikan bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan dari segi seni. Hmm kira-kira tari daerha kalian yang mana nih.

Mengenal Lebih Dalam Tentang Tari Daerah Indonesia

culture |