Sejarah Monas (Monumen Nasional) Jakarta

Siapa yang tidak mengenal Monas? Semua warga negara Indonesia harus mengenal salah satu ikon paling terkenal di ibukota Indonesia. Monumen Nasional (Monumen Nasional) atau yang lebih dikenal dengan Monas adalah monumen setinggi sekitar 132 meter. Monumen Monas dibangun untuk memperingati perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia yang merdeka dari penjajahan Belanda.

wisata-monas-2015

Monumen Nasional Indonesia atau yang biasa disebut orang Indonesia dan Jakarta sebagai Monas adalah monumen yang dibangun untuk mengingat perjuangan pahlawan Indonesia yang melawan dominasi kolonial. Monas dibangun berdasarkan gagasan presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, dengan bantuan Sudarsono dan F. Silaban sebagai arsitek, dan Ir. Rooseno selaku konsultan. Ini dibangun di atas lahan seluas 80 hektare. Monas secara resmi dibuka pada tanggal 17 Agustus 1961 oleh Presiden Soekarno, dan dibuka pada 12 Juli 1971.

Pembangunan Monumen Monas terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama berlangsung antara tahun 1961/1962 – 1964/1965, yang pada waktu itu Presiden Soekarno meresmikan secara simbolis dengan meletakkan pembangunan pasak beton pertama. Tahap kedua berlangsung antara tahun 1966 sampai 1968. Konstruksi dua fasa ini tertunda karena pemberontakan Gerakan 30 September 1965. Dan akhirnya tahap terakhir telah dilakukan sekitar tahun 1969 sampai 1976.

Bagian atas Monas berbentuk seperti nyala api, melambangkan semangat masyarakat Indonesia yang tidak pernah padam. Nyala api itu terbuat dari medali perunggu yang beratnya 14,5 ton, dan dilapisi dengan emas 35 kg. Nyala api memiliki diameter 6 meter dan terdiri dari 77 bagian terkonsentrasi.

monas1-768x541

Bentuk monumen dengan konsep Lingga dan Yoni melambangkan kesuburan dan kesatuan yang harmonis dan saling melengkapi. Monumen yang menjulang serta digambarkan saat Lingga melambangkan elemen laki-laki dan siang hari, sementara pengadilan berbentuk cangkir yang digambarkan sebagai Yoni melambangkan elemen perempuan dan malam. Namun bentuk Monas juga bisa diartikan sebagai sepasang Alu dan Lesung alu padi tradisional yang menggambarkan budaya Indonesia.

Yang menarik dari monumen ini adalah empat belas meter puncak berbentuk api yang ditutupi dengan lembaran emas seberat 50 kg yang melambangkan semangat perjuangan rakyat Indonesia yang selalu menyala, dimana seberat 28 kilogram emas dalam nyala api merupakan sumbangan. dari Teuku Markam, seorang pengusaha asal Aceh yang pernah menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia.

Sementara di bagian luar monumen ada halaman yang menggambarkan relief sejarah Indonesia. Di dasar bangunan tersebut juga terdapat Museum Sejarah Nasional Indonesia yang bisa menampung sekitar 500 orang. Monumen ini terletak tepat di pusat Medan Merdeka Square, Jakarta Pusat, Anda bisa berkunjung setiap hari dari pukul 08.00-15.00 WIB. Tapi untuk hari Senin terakhir setiap bulan, monumen ini ditutup untuk umum.

Pergilah lebih awal untuk mengalahkan orang banyak dan kabut asapnya. Mudah bagi orang yang kurang mampu secara fisik seperti mengangkat pengunjung ke puncak. Pameran diorama di ruang bawah tanah memberikan pandangan terdistorsi tentang sejarah Indonesia. Berkat diktator Suharto yang ingin mencuci otak negara ini lucu. Obelisk yang mengesankan ini merupakan tengara paling terkenal di Jakarta.

th-1-8

Konstruksi dimulai pada tahun 1961 di bawah Presiden Soekarno namun tidak selesai sampai tahun 1975, di bawah Presiden Soeharto. Monumen itu menampung beberapa museum. The Freedom Hall menggambarkan perjuangan kemerdekaan Indonesia melalui serangkaian diorama, sedangkan Aula Kontemplasi menampilkan dokumen Deklarasi Kemerdekaan yang asli dan rekaman pidato tersebut. Lift membawa satu ke platform observasi, yang memerintahkan pemandangan mata burung dari pemandangan kota.

Jalan Sudirman-Thamrin utama di Jakarta menuju ke Lapangan Merdeka, di mana di tengahnya berdiri Monumen Nasional (juga dikenal sebagai Monas atau Monumen Nasional) yang menjadi tempat bendera merah-putih pertama yang diterbangkan di Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Bendera ini sekarang menjadi tipis, dan saat ini dalam upacara Hari Kemerdekaan, bendera asli diambil tapi hanya untuk mengiringi bendera replika yang akan diterbangkan di depan Istana Merdeka. Monumen Nasional setinggi 137 meter berbentuk obelisk, dan ditutup dengan api perunggu setinggi 14,5 meter yang dilapisi daun emas 32 kilogram.

Di dalam tumpuan tersebut ada museum yang menggambarkan diorama pertarungan kemerdekaan Indonesia dan juga teks asli Proklamasi Kemerdekaan. Sebuah lift membawa pengunjung ke platform tampilan di dasar nyala api untuk melihat pemandangan Jakarta. Di sekeliling Monumen kini ada taman dengan air mancur musikal, dinikmati oleh masyarakat Jakarta pada hari Minggu untuk olah raga dan rekreasi. Rusa berkeliaran di antara pepohonan rindang di taman.

monas-e1377498980604-768x432

Lapangan Merdeka merupakan pusat bangunan pemerintahan yang paling penting. Pada masa kolonial Belanda di sini adalah pusat pemerintahan, yang dikenal sebagai Koningsplein atau King’s Square. Sisi utara didominasi oleh Istana Merdeka yang pernah menjadi rumah Gubernur Jenderal Belanda, yang sekarang juga menampung kantor Presiden dan Kabinet. Ke Selatan adalah kantor Wakil Presiden RI, Gubernur DKI Jakarta dan gedung parlemen provinsi, seperti juga Kedutaan Besar Amerika Serikat, sedangkan untuk Barat adalah Museum Nasional, Mahkamah Konstitusi, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dan gedung Indosat, yang pertama di Indonesia. Perusahaan telekomunikasi internasional.

Gimana guys? Sudah tahu kan, semoga aja ini dapat bermanfaat ya bagi kita semua, serta juga menambah wawasan kita semua.

Sejarah Monas (Monumen Nasional) Jakarta

History |